Manusia yang hidup di jaman sekarang ini berada pada masa
yang serba canggih, banyak informasi dari belahan dunia manapun bisa di akses
dengan mudah hanya dengan alat atau barang elektronik yang mempunyai fungsi
khusus. Sangat menguntungkan memang bisa melakukan aktivitas seperti browsing-browsing atau berselancar di
dunia maya hanya dengan sebuah perangkat canggih yang bisa dengan mudah kita
operasikan. Perangkat gadget
ini pun juga sudah menjamur di lingkungan kita bahkan pengguna usia anak-anak
pun sudah bisa mengaksesnya.
Dalam kehidupan sehari-hari tentunya kita melihat
bermacam-macam jenis gadget yang hampir digunakan oleh semua kaum remaja.Gadget
sangat berperan penting bagi kehidupan manusia guna untuk berkomunikasi,
memperbanyak relasi, menambah wawasan dan pengetahuan, pendidikan, bisnis.
Namun disisi lain terjadi hal yang berlawanan disebabkan oleh faktor
keteledoran pemakainya atau kekurang tepatan dalam memanfaatkan fungsi yang
sebenarnya.
Remaja pada zaman modern tentunya tidak ingin di judge sebagai orang gaptek, yang terlihat biasanya remaja
kini membawa gadget kemanapun
mereka pergi. Bahkan murid-murid sekolah terlambat masuk sekolah gara-gara main
game online, menghilangkan
stress, galau, kebosanan dengan gadget.,selain
itu gadget menurut mereka bisa dibilang
sudah menjadi gaya hidup mereka sehari-hari, statement yang biasanya mereka
bilang “Nggak bisa hidup dan
terlepas dari gadget, rasanya
berat kalau gak ada gadget yang
di genggam, Dengan pokok utama saya
mengambil contoh mengenai latar belakang mengenai pengaruh besar dampak gadget
di masyarakat. Adapun pengaruh besar terhadap sisi positif dan negatif dari perkembangan gadget.
Adapun contohnya dari sisi positif
1.Imformasi yang ada di masyarakat
dapat langsung diterimah masyarakat
2.Hubungan sosial antar masyrakat dapat
berlangsung dimana saja dan kapan saja
3.Sosialisasi kebijakan pemerintah
dapat lebih cepat disampaikan kepada masyarakat
4.Sarana untuk hiburan
Adapun
juga sisi negatif adanya gadget
1.Timbulnya jenis kejahatan baru
seperti penipuan , pornografi, pengiriman email sampah (spam) , pengiriman
virus
2.Kurangnya ruang privasi
3.Bisa membuat seorang anak menjadi
kecanduan dan penggunaan tidak sesuai kondisi
Goenawan Susatyo Mohamad merupakan seorang jurnalis dan sastrawan yang kritis
dan berwawasan luas. Tanpa lelah, ia memperjuangkan kebebasan berbicara dan
berpikir melalui berbagai tulisan dan organisasi yang didirikan-nya. Tulisannya
banyak mengangkat tema HAM, agama, demokrasi, korupsi, dan sebagainya. Seminggu
sekali menulis kolom "Catatan Pinggir" di Majalah Tempo.
Pendiri dan mantan Pemimpin Redaksi Majalah Berita Tempo kelahiran Karangasem
Batang, Pekalongan, Jawa Tengah, 29 Juli 1941, ini pada masa mudanya
lebih dikenal sebagai seorang penyair. Ia ikut menandatangani Manifesto
Kebudayaan 1964 yang mengakibatkannya dilarang menulis di berbagai media umum.
Ia juga pernah menjadi Nieman fellow di Universitas Harvard dan menerima
penghargaan Louis Lyons Award untuk kategori Consience in Journalism dari
Nieman Foundation, 1997. Secara teratur, selain menulis kolom Catatan Pinggir,
ia juga menulis kolom untuk harian Mainichi Shimbun (Tokyo).
Ia menulis sejak berusia 17 tahun, dan dua tahun kemudian menerjemahkan puisi
penyair wanita Amerika, Emily Dickinson. Sejak di kelas VI SD, ia mengaku
menyenangi acara puisi siaran RRI. Kemudian, kakaknya yang dokter (Kartono
Mohamad, mantan Ketua Umum PB IDI) ketika itu berlangganan majalah Kisah,
asuhan H.B. Jassin. "Mbakyu saya juga ada yang menulis, entah di harian
apa, di zaman Jepang," tutur Goenawan.
Pada 1971, Goenawan bersama rekan-rekannya mendirikan Majalah Mingguan Tempo,
sebuah majalah yang mengusung karakter jurnalisme majalah Time. Di sana ia
banyak menulis kolom tentang agenda-agenda politik di Indonesia. Jiwa kritisnya
membawanya untuk mengkritik rezim Soeharto yang pada waktu itu menekan
pertumbuhan demokrasi di Indonesia. Tempo dianggap sebagai oposisi yang
merugikan kepentingan pemerintah sehingga dihentikan penerbitannya pada 1994.
Goenawan Mohamad kemudian mendirikan Aliansi Jurnalis Independen (AJI),
asosiasi jurnalis independen pertama di Indonesia. Ia juga turut mendirikan
Institut Studi Arus Informasi (ISAI) yang bekerja mendokumentasikan kekerasan
terhadap dunia pers Indonesia. ISAI juga memberikan pelatihan bagi para
jurnalis tentang bagaimana membuat surat kabar yang profesional dan berbobot.
Goenawan juga melakukan reorientasi terhadap majalah mingguan D&R, dari
tabloid menjadi majalah politik.
Ketika Majalah Tempo kembali terbit setelah Pak Harto diturunkan pada 1998,
berbagai perubahan dilakukan seperti perubahan jumlah halaman namun tetap
mempertahankan mutunya. Tidak lama kemudian, Tempo memperluas usahanya dengan
menerbitkan surat kabar harian bernama Koran Tempo.
Setelah terbit beberapa tahun, Koran Tempo menuai masalah. Pertengahan bulan
Mei 2004, Pengadilan Negeri Jakarta Timur menghukum Goenawan Mohamad dan Koran
Tempo untuk meminta maaf kepada Tomy Winata, (17/5/2004). Pernyataan Goenawan
yang dimuat Koran Tempo pada 12-13 Maret 2003 dinilai telah melakukan
pencemaran nama baik bos Arta Graha itu.
Goenawan yang biasa dipanggil Goen, mempelajari psikologi di Universitas
Indonesia, mempelajari ilmu politik di Belgia dan menjadi Nieman Fellow di
Harvard University, Amerika Serikat. Goenawan menikah dengan Widarti
Djajadisastra dan memiliki dua anak.
Selama kurang lebih 30 tahun menekuni dunia pers, Goenawan menghasilkan
berbagai karya yang sudah diterbitkan di antaranya kumpulan puisi dalam
Parikesit (1969) dan Interlude (1971), yang diterjemahkan ke bahasa Belanda,
Inggris, Jepang, dan Prancis. Sebagian eseinya terhimpun dalam Potret Seorang
Penyair Muda Sebagai Si Malin Kundang (1972), Seks, Sastra, dan Kita (1980),
dan Catatan Pinggir (1982).
Hingga kini, Goenawan Mohamad banyak menghadiri konferensi baik sebagai
pembicara, narasumber maupun peserta. Salah satunya, ia mengikuti konferensi
yang diadakan di Gedung Putih pada 2001 dimana Bill Clinton dan Madeleine
Albright menjadi tuan rumah.
Biodata Lengkap Goenawan Susatyo Mohamad
Nama:Goenawan Susatyo Mohamad
Lahir:Karangasem Batang, Jawa Tengah, 29 Juli 1941
Agama:Islam
Istri:
Widarti Djajadisastra
Anak:
2 orang
Pendidikan:
- SR Negeri Parakan Batang, (1953)
- SMP Negeri II Pekalongan, (1956)
- SMA Negeri Pekalongan, (1959)
- Fakultas Psikologi UI Jakarta, (tidak selesai)
Karya Tulis:
- Parikesit, (kumpulan puisi, 1973)
- Potret Seorang Penyair Muda sebagai si Malin Kundang (esei), (Pustaka Jaya,
1974)
- Interlude, (puisi, 1976)
- Sex, Sastra, Kita (esei), (Sinar Kasih 1980)
- Catatan Pinggir, (Grafitipers, 1982)
Penghargaan:
- Internasional dalam Kebebasan Pers (International Press Freedom Award) oleh
Komite Pelindung Jurnalis (Committee to Protect Journalists), (1998)
- Internasional Editor (International Editor of the Year Award) dari World
Press Review, Amerika Serikat, (Mei 1999)
- Louis Lyons dari Harvard University Amerika Serikat, (1997)
- Penghargaan Professor Teeuw dari Leiden University Belanda, (1992)
Organisasi dan Karir:
- Redaktur Harian KAMI, (1969-1970)
- Redaktur Majalah Horison, (1969-1974)
- Pemimpin Redaksi Majalah Ekspres, (1970-1971)
- Pemimpin Redaksi Majalah Swasembada (1985)
- Pemimpin Redaksi Majalah TEMPO, (1971-sekarang)
Luar biasa apa yag di lakukan anak-anak pelajar muhamadiyah ini, mereka
adalah sosok yang patut di contoh bagi pelajar yang lain. Mereka rela
berpanas-panasan demi menggalang dana korban bencana gas di prabumulih. Hampir
seluruh pelajar muhamadiyah turun kejalan meskipun mereka harus menyisikan
waktu belajarnya. Mereka memulai penggalangan dana pada hari senin. (8/4). Dari
pukul 11:00-03:00 wib. Meskipun matahari cukup terik menyengat tapi mereka
tetap antusias. Husni salah satu pelajar muhammadiyah mengatakan sangat senang
mengikuti bakti sosial, selain menjadi contoh yang baik bagi pelajar dan
masyarakat, mereka juga dapat mendidik kepedulian masyarakat agar dapat
membantu saudaranya yang sedang tertimpa musibah.”ujarnya”.